Merencanakan Strategi Pembangunan Rendah Emisi yang Partisipatif dan Inklusif

Merencanakan Strategi Pembangunan Rendah Emisi yang Partisipatif dan Inklusif 

Merauke 13 Oktober 2014

Sebagai salah satu negara yang berkomitmen untuk mewujudkan pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 26% secara mandiri dan hingga 41% dengan dukungan multilateral pada tahun 2020, berbagai upaya dan langkah nyata kini telah dilakukan Indonesia dalam mewujudkan hal tersebut. Perubahan penggunaan lahan adalah salah satu sumber emisi pada sektor berbasis lahan, dengan demikian sektor ini perlu menjadi prioritas mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca.

 World Agroforestry Center (ICRAF) yang bekerja sama dengan sejumlah mitra yakni Task Force for Low Carbon Development di Papua (PLCD-TF), Yayasan Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Papua (YKPM Papua), serta Universitas Brawijaya melakukan serangkaian kegiatan di 3 kabupaten di Papua yang bertujuan untuk mengembangkan kapasitas masyarakat untuk dapat melakukan perencanaan dan pemantauan proses perencanaan penggunaan lahan untuk pembangunan rendah emisi secara partifipatif.

Melalui program ParCiMon (Participatory monitoring by civil society of land-use planning for low-emissions develpment strategy), yang di dukung oleh Uni Eropa, ICRAF bersama mitra memberikan berbagai pembekalan yang dapat meningkatkan peran partisipatif masyakat dalam upaya menyusun perencanaan penggunaan lahan serta membangun sistem pemantauan dan evaluasi penggunaan lahan.

Program ParCiMon melakukan kolaborasi dan menyelaraskan rencana kerja bersama di 3 kabupaten di Provinsi Papua dengan program LAMA-I (Locally appropriate mitigation action in Indonesia). Program LAMA-I atau  aksi mitigasi lokal di sektor berbasis lahan ini bertujuan untuk pengembangan kapasitas pemerintah daerah dalam merencanakan strategi pembangunan rendah emisi di sektor berbasis lahan. 

LAMA-I merupakan program yang didukung oleh Danish International Development Agency (DANIDA), diinisiasi oleh ICRAF bekerjasama dengan Deutsche Gesellschaft fur internationale Zusammenarbeit (GIZ), Center for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia and Pacific, Bogor Agriculture University (CCROM - IPB) guna mendukung komitmen pemerintah Indonesia dalam mewujudkan penurunan emisi nasional dan emisi dunia.

Perangkat teknis pembangunan rendah emisi berbasis lahan yang disebut "Land-Use Planning for Low-Emissions Development strategies (LUWES)” menjadi instrumen utama yang digunakan untuk menyusun strategi penggunaan lahan yang rendah emisi. Kelompok Kerja yang terlibat tidak hanya berasal dari kalangan pemerintah yang terdiri dari SKPD dan dinas terkait, Pokja juga beranggotakan lembaga non pemerintahan seperti LSM atau organisasi pemerhati lingkungan dan juga perwakilan dari masyarakat.

Pokja kabupaten Merauke mengikuti Pelatihan LUWES yang diadakan oleh ICRAF bersama YKPM dan Universitas Brawijaya pada tanggal 13-17 Oktober 2014. Pelatihan LUWES yang pertama ini diadakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pembekalan kepada Pokja Merauka dalam menyusun strategi pembangunan rendah emisi di Merauke.

Rachman Pasha dari ICRAF menyatakan bahwa ‘pelatihan ini ditujukan kepada anggota Pokja Kabupaten Merauke, yang merupakan representasi dari berbagai pihak dan masyarakat di Kabupaten Merauke khususnya dari sektor berbasis lahan. Tujuan dari pelatihan ini untuk memberikan pemahaman sekaligus peningkatan kapasitas kepada anggota Pokja mengenai inisiatif perencanaan pembangunan rendah emisi sekaligus metode pemantauannya’.

Peserta pelatihan ini berjumlah kurang lebih 40 orang  yang berasal dari tim dan anggota Pokja Kabupaten Merauke yang berisi perwakilan  dari satuan kerja pemerintah daerah (SKPD), LSM, sektor swasta, akademisi dan masyarakat. Peserta yang hadir diharapkan memiliki pengetahuan mengenai rencana dan arah pembangunan berbasis lahan sektoral/dinas yang diwakili.

Dari pelatihan ini anggota Pokja diharapkan memahami proses perencanaan pembangunan rendah emisi dan konsep ekonomi hijau untuk pembangunan berkelanjutan. Tindak lanjutnya adalah Pokja dapat menghitung garis acuan emisi kabupaten Merauke sekaligus pilihan skenario aksi mitigasi yang dapat dilakukan. Pokja Kabupaten Merauke juga kedepannya mampu menyusun prinsip, kriteria dan indikator untuk proses pemantauan dan evaluasi secara pastisipatif, apabila pilihan aksi mitigasi yang sudah di susun telah diimplementasikan.

 

Kontak media:

Yessi Dewi Agustina, LUWES Communication Officer

Email: Y.Agustina@cgiar.org hp: 081287884472

 

Untuk Editor:

Tentang ParCiMon

Participatory monitoring by civil society of land-use planning for low-emissions development strategies (ParCiMon) didesain guna mendukung Papua mencapai pembangunan rendah emisi sebagai wujud kontribusi Papua dalam mensukseskan strategi mitigasi perubahan iklim nasional. Proyek ini menitikberatkan pada program pembangunan kapasitas masyarakat sipil pada proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan rendah emisi berbasis lahan. Proyek ParCiMon di Papua dilaksanakan selama 4 tahun (Januari 2013 - Desember 2016) dilaksanakan oleh konsorsium mitra antara World Agroforestry Centre (ICRAF) dengan Satuan Tugas untuk Pembangunan Rendah Emisi di Papua (PLCD-TF), Yayasan Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Papua (YKPM), Yayasan Lingkungan Hidup Irian Jaya (YALI Papua) dan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Kegiatan ini mendapat dukungan dana dari Uni Eropa (European Union). Di Provinsi Papua, ParCiMon dilakukan di tiga kabupaten yakni Jayapura, Jayawijaya, dan Merauke. Informasi lebih lanjut: www.worldagroforestry.org/parcimon 

 

Tentang LAMA-I

Program Locally Appropriate Mitigation Actions in Indonesia (LAMA-I) dilaksanakan oleh World Agroforestry Centre (ICRAF) bekerja sama dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan the Centre for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia and the Pacific (CCROM) dengan dukungan dari the Danish International Development Agency (DANIDA). Lokasi program LAMA-I berlangsung di dua provinsi yaitu Sumatera Selatan dan Papua. Di Sumatera Selatan dilaksanakan di tiga kabupaten yaitu Musi Rawas, Musi Banyuasin, dan Banyuasin dan tiga kabupaten di Papua yaitu Jayapura, Jayawijaya, dan Merauke.

Informasi lebih lanjut: www.worldagroforestry.org/LAMA-I