Wamena (22/02)-Dalam rangka mendorong partisipasi aktif kelompok masyarakat sipil dalam melakukan proses pemantauan penggunaan lahan dalam program pembangunan rendah emisi di provinsi Papua, proyek Participatory Monitoring by Civil Society of Land-use Planning for Low-emissions Development Strategies (ParCiMon) menyelenggarakan kegiatan latih lapang di dua desa percontohan yakni desa Wambena di kabupaten Jayapura dan desa Mulima di kabupaten Jayawijaya
Perwakilan dari kelompok masyarakat lokal yang juga merupakan anggota dari Kelompok Kerja Inisiatif Pembangunan Rendah Emisi (Pokja IPRE) mendapat pelatihan untuk mendata jasa lingkungan di tiap-tiap desa percontohan dengan menggunakan cara-cara yang sederhana.
Salah satu kegiatan pemantauan jasa lingkungan adalah pengukuran stok karbon pohon. Kegiatan latih lapang dilakukan setelah sebelumnya para anggota Pokja mendapat pembekalan materi di kelas tentang fungsi pohon dalam menyimpan karbon serta cara sederhana melakukan pengukuran stok karbon pohon.
Focus group discussion (FGD) yang difasilitasi para anggota Pokja dilakukan sebagai langkah awal untuk memperoleh informasi dari pendududuk desa tentang tipe-tipe tutupan lahan di wilayah desa tersebut. Berbekal informasi itu, para peserta latih lapang membuat plot berukuran 100mx200 m di tiap tutupan lahan. Namun, pada saat kegiatan latih lapang tersebut dilaksanakan, para peserta hanya dapat membuat satu plot di wilayah hutan primer.
Panjang diameter pohon serta nama lokal tiap-tiap pohon adalah sejumlah data dasar yang dikumpulkan untuk memperolah informasi stok karbon di plot tersebut. Kumpulan data inilah yang nanti dimasukkan dalam "spreadsheet" yang nantinya akan digunakan untuk mengkalkulasikan stok karbon di tutupan lahan tersebut melalui persamaan "allometry."
Dengan mengetahui stok karbon dalam plot-plot tersebut, para peserta pelatihan akan mampu mengukur jumlah stok karbon dalam tipe tutupan lahan tertentu. Informasi tentang beragam tipe tutupan lahan yang telah dikumpulkan dari hasil diskusi dengan masyarakat lokal ini lalu digunakan untuk mengidentifikasi jenis tanaman dan keragaman fauna yang ada di wilayah mereka. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenali kondisi lingkungan tempat tinggal mereka, keanekaragamanhayatinya, serta mengidentifikasi perubahan yang terjadi selama lima tahun terakhir. Selain mengukur stok karbon, Pokja juga mendapatkan pelatihan pemantauan kualitas dan debit air.
Kumpulan data jasa lingkungan ini lalu digunakan sebagai acuan dalam menyusun prinsip, kriteria, dan idikator dalam pembangunan sistem pemantauan dan evaluasi perencanaan tata guna lahan yang saat ini tengah dikembangkan Pokja.
