Duta Besar Uni Eropa Kunjungi Lokasi Proyek ParCiMon di Papua

Duta besar Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN Olof Skoog mengunjungi Provinsi Papua, Indonesia, untuk mendukung upaya perlindungan hutan dan pembangunan berkelanjutan melalui proyek ParCiMon.

Duta Besar Skoog mengunjungi Kabupaten Jayapura dan Jayawijaya untuk melihat langsung program-program yang membantu masyarakat lokal untuk membangun perekonomian “hijau” atau rendah emisi untuk membantu mitigasi perubahan iklim dan pembangunan  yang berkelanjutan, yang merupakan salah satu komitmen utama Uni Eropa kepada Indonesia.

Melalui investasi dalam proyek “Pemantauan dan evaluasi secara partisipatif oleh masyarakat sipil dalam perencanaan tata guna lahan untuk strategi pembangunan rendah emisi” (Participatory monitoring by civil society of land-use planning for low-emissions development strategies/ParCiMon), Uni Eropa  menunjukkan keyakinannya pada janji Indonesia untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca  hingga mencapai total 41%, sebagian dari usaha Indonesia sendiri dan sebagian dari bantuan eksternal.

“Papua sangat penting karena hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya yang luar biasa kaya,” ujar Duta Besar Skoog kepada khalayak di kantor Gubernur Papua di jayapura. “Eropa memiliki ketertarikan pada Papua yang akan kami selaraskan dengan dukungan finansial dan teknis.” Beliau juga mengunjungi kantor bupati dan menekankan pesan yang sama.

Untuk membantu provinsi di bawah otonomi khusus ini mempertahankan hutan alami mereka yang menyimpan banyak karbon dan meningkatkan mata pencaharian 2 juta penduduknya, proyek ParCiMon yang berdurasi empat tahun dan dimulai pada 2013 berupaya  untuk meningkatkan kapasitas pemerintah lokal, LSM, dan masyarakat untuk merencanakan dan memantau tata guna lahan. Perhatian khusus diberikan pada akibat  dari perubahan tata guna lahan apa pun pada fungsi dan jasa ekologi dan dampak selanjutnya pada pertanian. Pembangunan berkelanjutan dipromosikan melalui perencanaan tata guna lahan yang menyeimbangkan antara kebutuhan untuk pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan jasa yang disediakan oleh ekosistem yang sehat. ParCiMon membantu masyarakat dan pemerintah untuk mengukur karbon di bentang lahan  mereka dan memasukkan informasi tersebut ke sistem penghitungan karbon untuk verifikasi dan pelaporan kepada komunitas internasional. Proyek ini didukung pendanaan mitra oleh CGIAR Research Program on Forests, Trees and Agroforestry.

“Kegiatan ini integral untuk sistem nasional dan internasional yang mapan dan transparan dalam mengurangi emisi GRK dari sektor berbasis lahan,” ujar Dr Sonya Dewi, pimpinan proyek, “terutama kegiatan yang disebabkan oleh perubahan tata guna atau tutupan lahan, khususnya deforestasi. Melalui ParCiMon, kami membantu masyarakat Papua untuk menciptakan perekenomian hijau melalui metode yang sudah kami kembangkan yaitu ‘Strategi perencanaan tata guna lahan untuk pembangunan rendah emisi’ atau LUWES (Land-use planning for low-emissions development strategies), yang sudah dicantumkan dalam arahan Bappenas untuk digunakan di seluruh Indonesia. Usaha kami di sini tidak hanya akan membantu Papua tetapi seluruh Indonesia dengan menguji dan mengadaptasikan metode ini agar dapat menjadi efektif dalam merencanakan perekonomian hijau.”

Mengunjungi Desa Wambena di Kabupaten Jayapura yang berbatasan dengan Cagar Alam Cyclops untuk menyaksikan langsung penduduk desa merawat hutan, keanekaragaman hayati, dan mata pencaharian mereka dan keterlibatan mereka dengan ParCiMon, Duta Besar UE berkomentar, “Saya sangat terkesan dengan perlindungan sumber daya alam di sini dan betapa Anda sangat antusias memenuhi kebutuhan untuk memantau hutan Anda.”

Selain mempelajari teknik mengukur aliran sungai, kualitas air, dan karbon, masyarakat desa juga terlibat dalam pengembangan teknik pemantauan keanekaragaman hayati yang menggunakan indikator sederhana yang mapan secara ilmiah. Duta Besar Skoog mencatat perhatian akan detail dan komitmen masyarakat dan keinginan mereka untuk menyebarkan kegiatan mereka hingga ke seluruh kabupaten.

“Usaha yang telah  lakukan adalah panutan untuk semua orang,” katanya. “Pemerintah Indonesia dan dunia berutang banyak kepada masyarakat Wambena . Saya akan membawa pesan ini tidak hanya ke Jakarta, tetapi ke dunia.”

Di Wamena, kota dataran tinggi terpencil, di Kabupaten Jayawijaya, Duta Besar Skoog mengunjungi konsultasi publik Kelompok Kerja Pembangunan Rendah Emisi, yang dihadiri oleh perwakilan badan pemerintahan, LSM, dan masyarakat lokal.

“Sumber daya alam dan masyarakat Jayawijaya bersama-sama adalah kekayaan yang patut disyukuri,” ujar Duta Besar Skoog. “Kelompok kerja dapat membantu mendorong pembangunan ekonomi yang tidak merusak dua sumber daya yang paling berharga ini. Dengan dukungan yang bertambah di Wamena untuk kerja Anda, kabupaten ini menjadi panutan untuk perencanaan masa depan hijau yang mapan.”

 Duta Besar Skoog menekankan pada kelompok kerja bahwa dia akan mendorong Pemerintah Indonesia untuk memberikan lebih banyak dukungan kepada pemerintah provinsi Papua untuk memastikan bahwa komitmen reduksi emisi nasional dapat dipenuhi dan pada saat bersamaan juga membantu masyarakat Papua mencapai potensi penuh mereka sebagai masyarakat yang aktif.

 

Diterjemahkan oleh Ariyantri Eddy Tarman.