Jayapura (15/02)-Delegasi dari Uni Eropa mengunjungi desa Wambena di distrik Depapre, Jayapura, Selasa (11/2). Desa tersebut merupakan salah satu desa percontohan di kabupaten Jayapura untuk proyek “Pemantauan Partisipatif oleh Masyarakat Sipil pada Proses Perencanaan Tata Guna Lahan untuk Pembangunan Rendah Emisi” atau Participatory Monitoring by Civil Society of Land-use Planning for Low-emissions Development Strategies (ParCiMon) yang didanai oleh Uni Eropa.
Pada kunjungan itu, delegasi Uni Eropa yang diwakili oleh Head of Cooperation, Franck Viault, dan Program Manager (Environment, Climate Change, FLEGT-VPA) Operations Section, Giovanni Serritella, berdiskusi dengan kelompok masyarakat setempat untuk memperoleh masukan guna pengembangan kegiatan-kegiatan ParCiMon di masa mendatang.
Masyarakat lokal terlihat sangat antusias dengan adanya program ParCiMon. Salah satu tokoh agama di desa Wambena, Yehuda Demetouw mengemukakan, ParCiMon adalah sebuah inisiatif yang baik untuk membantu masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian sumber daya alam di desa tersebut. Melalui program itu, masyarakat akan didorong untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengelola sumber daya alam di desa mereka secara lestari.
Melalui serangkaian kegiatan peningkatan kapasitas, perwakilan dari masyarakat lokal yang juga dilibatkan dalam keanggotaan Kelompok Kerja Inisiatif Pembangunan Rendah Emisi Jayapura, mendapat pelatihan mengukur stok karbon dengan menggunakan metodologi sederhana, mendata keanekaragaman hayati, serta memantau kualitas air di wilayah mereka. Ke depan, kelompok masyarakat yang telah dilatih ini diharapkan akan mampu menularkan pengetahuan dan keahliannya ke kelompok masyarakat lainnya di desa mereka dan desa-desa lainnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kabupaten Jayapura, Hanna Hikoyabi, yang juga turut hadir pada forum dialog dengan masyarakat dan delegasi Uni Eropa menyatakan, masyarakat di desa Wambena dan Yepase memiliki kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang mereka terdahulu. Mereka meyakini bahwa alam telah menyediakan beragam sumber dayanya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan hidup masyarakat desa tersebut. Oleh karena itu, mereka berkewajiban untuk menjaga alam berikut sumber dayanya sebagai bentuk penghargaan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka, jelasnya.
Melalui ParCiMon, kearifan lokal seperti itu dapat diperkuat dengan cara menyandingkannya dengan ilmu pengetahuan sehingga kesadaran dan komitmen masyarakat lokal maupun pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga dan mengelola alam dan sumber dayanya dapat senantiasa dibangun, ungkapnya. Tidak hanya itu, Hanna juga sempat menyelipkan pesan kepada masyarakat lokal untuk menjaga dan melestarikan komoditas khas di desa Wambena. Ia mencontohkan desa Dormena yang hingga kini terkenal dengan buah mangganya yang memiliki cita rasa yang khas. Desa Wambena juga bisa melakukan hal yang serupa, yakni mengembangkan dan memasarkan komoditas unik daerahnya yang dapat berkontribusi dalam membangun perekonomian di desa itu.
Salah satu delegasi Uni Eropa, Franck Viault mengaku terkesan dengan kekayaan sumber daya alam yang ada di Wambena. Ia mengemukakan, walaupun singkat, namun kunjungan ke desa itu mampu memberikan gambaran nyata kekayaan alam Wambena. Sumber daya air yang berlimpah yang mampu membangkitkan tenaga listrik di seluruh desa, lahan yang luas terbentang, serta hutan yang masih terjaga dengan baik menambah deret panjang daftar kekayaan alam Wambena.
“Saya percaya bahwa masyarakat desa Wambena adalah aktor utama yang berperan penting dalam mengelola sumber daya alam desa ini secara berkelanjutan demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang. Oleh karena itu, membangun kapasitas masyarakat desa Wambena menjadi upaya yang penting digiatkan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan sekaligus pula menjaga sumber daya alam secara berkelanjutan, tentunya dengan bersinergi bersama pemerintah daerah,” pungkasnya.
