TLFF Meluncurkan Obligasi Keberlanjutan Korporasi Pertama di Asia untuk Perusahaan Karet Alam di Indonesia

Siaran Pers

Jakarta, 26 Februari 2018 - Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) hari ini mengumumkan transaksi perdananya, melalui peluncuran Obligasi Keberlanjutan (Sustainability Bond) senilai 95 juta dolar AS atau sekitar 1,3 Triliun Rupiah untuk membantu membiayai perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) karet alam berkelanjutan yang beroperasi pada lahan yang sangat terdegradasi di dua provinsi di Indonesia. Proyek ini ditujukan untuk pengembangan kerangka pengaman sosial dan lingkungan yang lebih luas. Areal yang ditanami akan difungsikan sebagai zona penyangga untuk melindungi taman nasional yang terancam dari aksi- aksi perambahan.

Obligasi Keberlanjutan ini akan dilakukan melalui beberapa tahapan pembiayaan yang telah disiapkan oleh BNP Paribas (BNPP) dan dikeluarkan oleh TLFF I Pte Ltd. untuk mendanai PT Royal Lestari Utama (RLU), sebuah perusahaan patungan di Indonesia antara Michelin dari Perancis dan Grup Barito Pacific dari Indonesia, untuk produksi karet alam yang ramah iklim dan satwa liar, dan menyertakan aspek-aspek sosial di Provinsi Jambi di Sumatera, dan Provinsi Kalimantan Timur.

Proyek ini melibatkan kolaborasi dengan WWF, yang telah bekerja bersama Michelin dan RLU dalam melindungi hutan dengan Cadangan Karbon Tinggi (High Carbon Stock/HCS) dan Nilai Karbon Tinggi (High Carbon Value/HCV) yang masih tersisa di kawasan HTI RLU, serta daerah-daerah konservasi satwa liar dan riparian yang sangat penting. Dari luasan HTI sebesar 88.000 hektar, sekitar 45.000 hektar akan dicadangkan untuk mata pencaharian masyarakat setempat dan kegiatan konservasi.

Di Provinsi Jambi, kedua daerah HTI yang dimiliki oleh RLU dan dua wilayah kerja Restorasi Ekosistem (RE)WWFmembentuk sebuah zona penyangga berdampingan yang melindungi Taman NasionalBukit Tigapuluh, yang merupakan salah satu lokasi terakhir di Indonesia dimana merupakan habitat gajah, harimau, dan orangutan hidup bersama. Ketika pengembangan HTI telah mencapai usia mature, HTI karet alam ini diharapkan akan memberikan sekitar 16.000 lapangan pekerjaan yang dapat menjadi sumber pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Menyambut pengumuman tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Siti Nurbaya Bakar mengatakan, "Kami sangat mendukung drive dari sektor swasta dengan pola investasi seperti TLFF yang tidak hanya mendorong peningkatan ekonomi, tetapi juga peningkatan skill jangka panjang.”

“Kami merasa terhormat dapat mengambil langkah penting ini bersama TLFF dalam membentuk sebuah kemitraan yang memberikan dampak bagi pengembangan industri karet yang lebih berkelanjutan,” kata David Sulaiman, Direktur Utama RLU. “Proyek ini mendemonstrasikan komitmen kami terhadap pasar karet yang berkembang dan berkelanjutan untuk negara ini, dan dukungan positif bagi masyarakat setempat.”

Dr. Kuntoro Mangkusbroto,KetuaTLFFmenyambut keselarasan proyek ini dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) melalui pendekatan triple bottom line holistik yang menempatkan masyarakat dan alam sebagai inti dari semua proyek TLFF.

Hingga Desember 2017, 18.100 hektar perkebunan karet telah ditanami, dan obligasi TLFF yang dikeluarkan ini akan berkontribusi pada pembiayaan pengembangan lebih lanjut perkebunan dimana USAID telah memberikan jaminan kredit sebagian untuk transaksi tersebut.

Erik Solheim, Direktur Eksekutif UN Environment mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai sejak penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara UN Environment dan BNP Paribas pada One Planet Summit di Paris pada bulan Desember 2017, yang menargetkan pembiayaan berkelanjutan inovatif senilai 10 miliar dolar AS hingga tahun 2025 untuk proyek-proyek yang mendukung pertanian dan kehutanan berkelanjutan dengan cara-cara yang membantu mengatasi krisis iklim.

“Peran bank saat ini adalah untuk memastikan kita dapat mendukung proyek-proyek berkelanjutan yang memberikan dampak dimana pun. Walaupun terdapat tantangan, transaksi ini merupakan bukti bahwa lembaga-lembaga keuangan dapat memberikan manfaat sosial melalui komitmen yang kuat” kata Eric Raynaud, CEO Kawasan Asia-Pasifik dan Anggota Group Executive Committee di BNP Paribas.“Pengaturan struktur yang tidak mudah juga mendemonstrasikan bahwa nasabah investor kelembagaan kami memiliki keinginan besar untuk berinvestasi pada proyek dan perusahaan yang menggabungkan kinerja komersial dan keuangan dengan tujuan dan dampak lingkungan dan sosial yang jelas.” Luc Cardyn, Direktur Utama PT Bank BNP Paribas Indonesia, menambahkan, “Sebagai Pengelola Utama transaksi Obligasi Keberlanjutan terobosan ini, BNP Paribas merasa bangga dapat membantu memberikan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial kepada Indonesia.”

Salah satu pendiri dan mitra ADM Capital, Chris Botsford, mengatakan, “Membalikkan tren deforestasi dan perubahan iklim merugikan yang ada saat ini akan membutuhkan miliaran dolar. Modal sektor swasta harus

menjadi bagian penting dari solusi ini. Kami harap transaksi ini akan mengilhami banyak pihak lain untuk segera mengambil tindakan.”

“Kami merasa senang telah dilibatkan dalam pendekatan pendanaan menarik dan inovatif ini,” kata Tony Simons, Direktur Jenderal World Agroforestry Centre (ICRAF). Simons menyatakan, “Sebuah paradigma baru telah terbentuk dengan investasi bernilai tinggi untuk memberikan keuntungan lingkungan dan sosial yang substansial serta keuntungan keuangan dengan risiko bersama.”

Transaksi ini adalah obligasi keberlanjutan korporasi pertama di Asia dan obligasi keberlanjutan yang pertama di ASEAN. Lembaga penelitian yang bergerak dibidang Tata Kelola Lingkungan dan Sosial (ESG) Vigeo Eiris telah mengkonfirmasi bahwa Surat Utang ini adalah ‘Surat Utang Keberlanjutan’ dengan kontribusi positif pada pembangunan berkelanjutan, dan selaras dengan Pedoman Obligasi Ramah Lingkungan (Sustainability Bond Guidelines) ICMA. Informasi lebih lanjut tersedia di https://tlffindonesia.org/.

Surat Utang Suku Bunga Tetap senilai 95.000.000 dolar AS ini terdiri dari kelas-kelas berikut: Surat Utang Kelas A senilai 30.000.000 dolar AS dengan jatuh tempo pembayaran tahun 2033, Surat Utang Kelas B1a senilai 20.000.000 dolar AS dengan jatuh tempo pembayaran tahun 2033, Surat Utang Kelas B1b senilai 15.000.000 dolar AS dengan jatuh tempo pembayaran tahun 2023, Surat Utang Kelas B1c senilai15.000.000dolar AS dengan jatuh tempo pembayaran tahun2025, dan Surat Utang Kelas B2 senilai 15.000.000 dolar AS dengan jatuh tempo pembayaran tahun 2033. Surat Utang Kelas A telah diberikan peringkat Aaa(sf) oleh Moody’s.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

communications@rlu.co.id

communications@tlffindonesia.org

Tentang RLU:PT. Royal Lestari Utama (RLU) – dibentuk sebagai perusahaan bersama antara Michelin dengan anak perusahaan Barito Pacific Group pada tahun 2014 – mengoperasikan tiga izin yang mencakup 70.000 ha di BTP, PT. Wanamukti Wisesa (WMW), dan PT. Lestari Asri Jaya (LAJ) serta 18.000 ha di Kalimantan Timur, PT Multi Kusuma Cemerlang (MKC). Semua daerah telah sangat terdeforestasi, sebagian besar oleh perambah pendatang. Barito dan Michelin menggabungkan keahlian mereka dalam agronomi dan penggilingan ulang, dan membentuk RLU untuk mengelola daerah tersebut secara lebih baik, termasuk melakukan penghijauan dan pengembangan perkebunan karet yang memasukkan aspek-aspek sosial dan/atau ramah terhadap satwa liar.

Tentang TLFF:

Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF), sebuah kemitraan antara UN Environment, World Agroforestry Centre (ICRAF), ADM Capital, dan BNP Paribas yang bertujuan untuk membawa pembiayaan jangka panjang untuk proyek dan perusahaan yang mendorong pertumbuhan hijau dan meningkatkan mata pencaharian pedesaan di Indonesia. TLFF terdiri dari sebuah platform pinjaman yang dikelola oleh ADM Capital dengan

BNP Paribas sebagai penasihat dan penyusun struktur, serta sebuah dana hibah yang dikelola oleh UN Office for Project Services (UNOPS).

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.tlffindonesia.org

Tentang mitra-mitra pendiri TLFF:

UN Environment (UNEP) – adalah pihak berwenang utama yang menetapkan agenda lingkungan global, secara koheren mendorong pelaksanaan dimensi lingkungan dari pembangunan berkelanjutan dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan bertindak sebagai penasihat untuk isu-isu lingkungan.

World Agroforestry Centre (ICRAF) – adalah sebuah pusat keunggulan ilmiah yang memanfaatkan faedah pohon bagi masyarakat dan lingkungan hidup. Dengan memanfaatkan tempat penyimpanan ilmu pengetahuan dan informasi wanatani terbesar di dunia, kami mengembangkan praktik-praktik pengetahuan, dari ladang petani ke lingkup global, untuk memastikan ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.

ADM Capital (ADM) – adalah pengelola investasi, dibentuk pada tahun 1998 dan berkantor pusat di Hong Kong, dengan kantor lain di London, Istanbul, dan Singapura. ADM telah berinvestasi di Indonesia sejak tahun 1998, dan merupakan salah satu pemain mapan paling lama dalam lingkup utang swasta di Asia. ADM sangat inovatif dalam merancang struktur utang yang memberikan keselarasan kepentingan yang kuat antara peminjam dan pemberi pinjaman. Pada tahun 2006, ADM Capital membentuk ADM Capital Foundation, (“ADMCF”), yang memiliki kerja rintisan antara lain dalam mencegah deforestasi, melakukan konservasi laut, dan mencegah pencemaran air. IFC bekerja sama erat dengan ADM untuk mendistribusikan modal di Asia dengan cara yang sesuai dengan praktik-praktik ESG terbaik. ADM memiliki tim yang terdiri dari 50 orang, dipimpin oleh Robert Appleby dan Christopher Botsford.

BNP Paribas – adalah salah satu lembaga keuangan internasional yang diposisikan dengan sangat baik, yang terus hadir di kawasan Asia dan Pasifik sejak tahun 1860. Dengan lebih dari 15.000 pegawai* saat ini, dan kehadiran di 14 pasar, BNP Paribas memberikan kepada korporasi, investor kelembagaan, dan investor swasta solusi produk dan jasa yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus mereka. BNP Paribas menawarkan berbagai jasa keuangan yang meliputi perbankan korporasi dan kelembagaan, pengelolaan kekayaan, pengelolaan aset, asuransi, serta perbankan ritel, dan pembiayaan konsumen melalui kemitraan strategis. BNP Paribas hadir di 74 negara di seluruh dunia dengan lebih dari 190.000 pegawai. Lembaga keuangan ini memiliki posisi kunci dalam tiga kegiatan utama, yaitu Pasar Dalam Negeri, dan Jasa Keuangan Internasional (dengan jaringan perbankan ritel dan jasa keuangan dikelola oleh Perbankan & Jasa Ritel), dan Perbankan Korporasi & Kelembagaan, yang melayani dua nasabah waralaba, yaitu nasabah korporasi dan investor kelembagaan. Kawasan Asia dan Pasifik adalah kawasan strategis utama bagi BNP Paribas, dan lembaga keuangan ini terus mengembangkan cabangnya di kawasan ini.

* tidak termasuk kemitraan